Ceritaku Dari Dusun Sidomulyo, Desa Sumberejo, Ambulu, Jember (part 3)



Lanjutannya nih ya
Klik readmore aja


Setelah fix penentuan tempat, awalnya saya berniat untuk mencari talent tidak dalam bentuk open casting.
Kenapa?
Karena apabila saya open casting, otomatis saya harus menunggu orang-orang mendaftarkan diri menjadi talent film kami.
Dan berhubung yang kami butuhkan adalah anak-anak, otomatis kami harus memakai sistem lain.
Akhirnya, saya memutuskan untuk memakai sistem "jemput bola" untuk mendapatkan talent.

Jemput bola, artinya adalah kita sendiri yang mencari talent.
Karena lokasi shotingnya di Ambulu, saya harus mencari talent anak-anak sekolah yang rumah dan sekolahnya di sekitar Ambulu.
Mulai-lah saya mengumpulkan data sekolah apa saja yang ada di kawasan Ambulu.
Saya akan memulai mencari talent dari sekolah sekitar dan berbicara dengan Kepala Sekolah.

Dari sekian banyak data, akhirnya salah satu tim yang diutus untuk mencari talent menyambangi satu dari sekian list sekolah yang sudah kami data.
Salah satunya adalah SMPN 02 Ambulu.

Ternyata, niat kami untuk mencari talent di sekolah tersebut disambut baik oleh Kepala Sekolah SMPN 02 Ambulu, Bapak H. Agus Siswanto, Spd, M.Si.

Akhirnya kami melakukan pencarian talent di SMPN 02 Ambulu tersebut dan bertemu lah dengan calon-calon ini.

Calon pemeran utama


Calon penari dan sinden

Akhirnya setelah mendapatkan calon talent, kami rapat dan voting akan memakai talent yang mana.
Setelah selesai penentuan, kami kemudian mulai sibuk untuk persiapan rehearsal selama 3 hari.

Persiapan dapat dimulai dari menyiapkan list alat yang hendak dipinjam, reading talent (latihan pengadeganan talent), persiapan konsumsi, transportasi, bensin, persiapan wadrobe dan make up.

Rehearsal  dapat juga disebut sebagai recce (dibaca = reki).
Recce  sangat berguna sebagai pemanasan sebelum menjelang produksi.
Recce yang kami adakan itu seminggu menjelang produksi dan jeda nya hanya satu dua hari.
Pada proses recce kita dapat mengetahui medan produksi secara nyata.
Apakah tempatnya ramai atau tidak, ramai jam berapa saja, aktivitas warga sekitar, kondisi cuaca dari jam ke jam dan proses adaptasi talent dan crew di medan produksi.

Proses recce ini harus dikerjakan secara serius untuk mendapat hasil yang matang.

Kami recce selama 3 hari, dan selama 3 hari tersebut kami menginap di Dusun Sidomulyo.
Jujur, pertama kalinya saya menginap di sebuah Dusun, rasanya cukup menyenangkan tapi juga mesti banyak belajar.
Disana kamar mandi hanya ada 2 dan untuk cuci piring, saya harus menimba air wkwk.

Para crew yang perempuan dan talent anak-anak tidur dirumah Mbah (rumah lokasi shooting) dan parah crew yang laki-laki tidur dirumah basecamp bersama dengan alat-alat produksi.

Kenapa dipisah?
Jelas untuk menghindari kecurigaan dan juga kami mendapat banyak mandat dari Pak Dusun, Mbah dan warga sekitar agar tidur anak perempuan dan laki-laki dipisah.
Selain itu, penempatan crew laki-laki tidur bersama alat adalah pilihan yang tepat karena mereka bisa menjaga keamanan alat-alat tersebut yang harganya mahal-mahal.

Dusun Sidomulyo ketika malam tiba luar biasa gelap.
Tidak ada penerangan untuk lampu jalan.
Penerangan hanya di rumah warga itupun kecil dan remang-remang.

Kalau mau mandi, kami biasanya menumpang di rumah Mbah.
Ketika berjalan dari basecamp ke rumah Mbah di sebelah, kami lebih baik tidak memakai senter untuk penerangan.

Kenapa?
Anjing-anjing disana biasanya akan kaget ketika melihat sinar bergerak-gerak dan menembak pengelihatan mereka. Mereka jadi ga berhenti menggonggong dan bila satu anjing sudah menyalak, maka seluruh anjing di satu dusun itu ikut-ikutan menyalak.

Teman saya adalah korban wkwk.

Waktu itu, karena takut gelap, dia menyalakan senter sambil berjalan.
Sialnya dia, ketika berjalan, senternya tidak sengaja menyenter wajah salah satu anjing di depan rumah Mbah.
Anjing itu kemudian menyalak tidak berhenti-berhenti.
Anjing tetangga depan kemudian mulai menyalak juga.
Lalu anjing disebelah.
Akhirnya, seluruh anjing di dusun ini menyalak tak henti-henti selama 1 jam lamanya.

Pada saat anjing menyalak, dia tidak menyerang sih.
Tapi dengan syarat, kita jangan lari.
Jadi teman saya hanya berdiri dan minta tolong sedangkan disekelilingnya banyak suara anjing yang melolong-lolong, sebagai tanda terancam.

Disitu saya paham apa maksud Pak Kepala Dusun menyebut anjing-anjing di Dusun Sidomulyo sebagai "sebagian dari sistem keamanan".

Sewaktu recce, kelompok saya sempat mengalami beberapa kendala.
Diantaranya kendala teknis dan juga kondisi lapangan.

Jalan di Dusun Sidomulyo umumnya ramai pada pagi dan sore hari.
Dikarenakan kondisi disana banyak petani, pagi buta sudah banyak petani yang berangkat ke sawah.
Sedangkan sore hari waktunya mereka pulang dari sawah.

Kebetulan, waktu itu, sudah mendekati waktunya panen sehingga sawah sangat ramai dan jalan-jalan jadi sulit untuk dialihkan. Beberapa petani juga sempat merasa kesal karena jalan yang biasa mereka lalui mendadak ditutup dan menyulitkan mereka.

Sebagai orang yang numpang lapak, saya banyak kali mengucapkan permintaan maaf saya ketika membantu manager lokasi mengalihkan jalan.

Ada warga yang akhirnya mengerti dan ada juga warga yang tidak sabaran sehingga menerobos jalan yang sudah kami palang.

Harus sabar, jelas.
Namanya juga numpang lapak dan berkegiatan di kawasan yang jarang dijadikan lokasi shooting, tapi dengan sabar, sedikit demi sedikit, kami belajar banyak tentang lingkungan produksi kami sebelum akhirnya benar-benar berproduksi.

Lewat recce kami juga semakin mengenal talent kami.
Seperti apa karakternya, apa yang dia suka dan apa yang tidak dia suka.

Sekali lagi, karena memakai talent anak-anak, kami tidak bisa sembarangan bersikap selayaknya bekerja dengan orang dewasa. Kami harus banyak-banyak bercanda dan easy going ketika dilapangan. Gunanya agar mood si talent tidak terganggu dan si talent bisa beradegan dengan kondisi mood yang baik.

Kami memiliki cukup banyak masalah yang baru kami pelajari ketika recce, seperti masalah kedisiplinan waktu, arah matahari, kondisi angin, kesibukan lingkungan dan sebagainya tapi karena talent kami anak-anak, kami tidak bisa menunjukkan itu di depan mereka. Kami harus terlihat profesional dan seolah-olah tidak apa-apa.
Berat?
Iyasih wkwk
Pikiran mumet tapi disuruh ketawa

Tapi itulah tantangannya.
Dan dengan begitu, akhirnya kami berhasil membuat chemistry kami dengan talent anak-anak ini.

Pulang dari recce kami semakin matang mengetahui kondisi lapangan yang akan kami hadapi lusa kemudian.

Akhirnya setelah prepare lebih disiapkan, datanglah hari itu, 25 April 2018, kami berangkat ke Dusun Sidomulyo untuk Produksi.

Tanggal 25 April, kami memiliki banyak schedule diantaranya adalah ada kegiatan doa bersama.
Doa bersama diadakan di basecamp kami mengundang Pak Eko dan mengikuti tradisi mayoritas di Dusun tersebut, doa panjatkan dengan cara Kristiani.

Pak Eko

Crew yang kena foto/?
Crew yang kena foto part 2/?

Di acara ini juga kami saling berkenalan dan saya sebagai Produser mengucapkan terimakasih kepada Pak Eko telah mengizinkan tim saya untuk berkegiatan di Dusun ini sampai tanggal 2 Mei dan saya mengucapkan beberapa ucapan maaf apabila nantinya terjadi berisik-berisik dari tim kami dan menganggu ketentraman warga selama beberapa saat.

Acara dilanjutkan dengan meminta sedikit pesan-pesan dan wejangan dari Pak Eko terhadap tim ini.
Kemudian dilanjutkan dengan acara doa bersama.
Selesai doa bersama, kami berbincang-bincang sebentar dan bertanya jawab soal kondisi Dusun. Mulai dari cara menghadapi anjing, keamanaan dusun ini dan sebagainya.

Acara doa bersama kami sukses dan setelah acara selesai, kami menyiapkan untuk hari esok.
Hari Produksi.

~Keesokan Harinya~

Besoknya, kami bangun pagi-pagi sekali jam setengah 5 pagi.
Kami mandi, mempersiapkan alat, mendandani talent, menyiapkan air minum untuk dibawa pada saat shooting dan sebagainya.

Plang untuk mengalihkan jalan yang digunakan oleh
Menlok, READY!

Jam-jam awal di hari pertama terasa tegang dan deg-degan meski kami sudah berusaha santai.
Kami semua bekerja dengan jobdesk masing-masing.
Berhubung saya produser dan aslinya tidak melakukan apa-apa pada saat produksi, maka saya bersedia untuk menjaga basecamp selama take dan bersih-bersih basecamp.

Selama shooting, kami juga menemui beberapa kendala.
Mulai dari ngutang scene, waktu take molor hingga kejadian yang kurang enak yang dialami oleh menlok ketika mengalihkan jalan.

Saya sendiri sempat bantu-bantu menlok waktu shooting hari ke-2.
Dan ya, memang ada beberapa warga yang sulit diatur dan menerobos jalan.
Tapi selama saya jadi menlok, selama saya bicara dengan baik-baik maka warga akan mengerti dan memutar jalan.

Lokasi yang paling sulit diatur sebenarnya adalah lokasi di sawah.
Selain bertepatan dengan musim panen (yang otomatis membuat sawah jadi sangat ramai oleh petani), jalan di sawah itu hanya satu dan kecil. Warga yang mungkin lelah setelah seharian di sawah menjadi tidak sabaran dan menerobos masuk.
Waktu shooting jadi sempat terhambat beberapa waktu, bahkan sampai ngutang shot.

Shooting di sawah selain menegangkan karena banyak warga yang emosi namun juga menyenangkan.
Menyenangkan karena kita bisa bersenang-senang di sawah dan talent kami tidak badmood sehingga kami masih sempat bersenang-senang.

Akbar & Wahyu
Our main actors
Pada saat shooting di sawah, harus ekstra sabar karena kalau salah bicara, jangan sampai warga marah dan mengarahkan clurit ke arah kita.

Tapi karena kewajiban adalah kewajiban, akhirnya hutang shot yang setengah mati kami coba dapatkan terbayar juga dikeesokan harinya ketika kami bayar hutang shot di persawahan.

Shoting di desa yang susah sinyal membuat kami jadi lebih sering mengobrol dan tukar pikiran. Kami jadi merasa latihan KKN hehehe.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Living Universe | Journey To Another Stars

Cara Menghadapi Bos Galak

Ceritaku Dari Dusun Sidomulyo, Desa Sumberejo, Ambulu, Jember (part 2)